Makrab

TRIP TO DIENG

| Rabu, 14 November 2018 - 15:59:43 WIB | dibaca: 113 pembaca

10,11/11/18

Hello! Kembali lagi dengan kagem,

Tulisan ini akan sangat menarik karena berbeda dengan biasanya, kegiatan kali ini adalah agendanya kakak-kakak merehatkan pikiran dan mencari kesenangan! Haha. Dieng merupakan tempat tujuan kami untuk travelling sekaligus mengakrabkan kakak-kakak punggawa dari yang junior hingga temu kangen dengan kakak senior lho!.

Trip ini berlangsung selama dua hari yakni hari Sabtu dan Minggu (10,11 November 2018). Pukul 12.00 WIB, setelah shalat dzuhur kami berkumpul di markas Kagem, hujan rintik-rintik menyapa kami, penuh harap serta cemas semoga langit dapat berkompromi, setidaknya kegiatan inti pagi besok  untuk mendaki Puncak Sikunir terealisasi supaya kami bisa melihat indah nya golden-sunrise, Dieng punya! Menit ke menit, kakak punggawa mulai terkumpul sempurna, jumlah kami ada 17 orang. Pukul 13.00 WIB kami pun berangkat, menggunakan 3 mobil. Siang itu sangat sejuk, karena hujan turun, kami beriang gembira selama perjalanan. Perjalanan menuju Dieng sangat mengasyikan sekaligus menguji kakak-kakak yang mungkin cepat pusing kalau jalan sudah begini, jalannya menanjak, menurun, dan berkelok-kelok haha! Saran penulis, duduk dipinggir untuk bersandar, sedia minyak kayu putih dan tidur-lah! Wkwkwk. Perjalanan kami pun menguji isi perut, mulai dari turun ke Ind*maret, hingga beli cilok, bakso dan martabak di pinggir jalan, ternyata snack yang ada di minimarket sangat kurang bagi kebutuhan perut kami haha.

Perjalanan dari Sleman menuju Dieng memakan waktu sekitar 6 jam. Wow! 6 jam! tapi sungguh penulis dan teman lainnya tidak merasa bahwa ini merupakan perjalanan yang panjang, rasanya sangat menikmati kehangatan canda tawa kami hingga waktu terasa begitu singkat. Pukul 19.00 rombongan kami pun tiba di penginapan, keluar dari mobil (wusshhhhh) udara menghembus perlahan menusuk baju hangat kami. Ini  mengalahkan hembusan ac mobil yang sudah dingin, tapi ini lebih dingin lagi, sudah seperti dikutub! Kami pun sudah tidak sabar masuk ke rumah untuk mencari kehangatan haha. (kami menunggu pemilik homestay datang) *krekk, ternyata pintu itu terbuka oleh Mas Byan, tak terkunci, tapi sebagai pribadi yang baik kami tetap menunggu kedatangan pemilik wkwkwk. Sambil kami menunjuk-nunujuk kamar yang terlihat dari balik jendela.

Pemiliknya pun datang, kami masuk dengan wajah sumringah. Kami langsung beres-beres, mandi, shalat dan akhirnya makan bersama. Makanan yang sudah dimasak dipersembahkan oleh chef ahli: Mba Puja dan para kakak-kakak cantik yang sedia membantu (perlukah disebut?) XD. Kami berkumpul di ruang tamu, bercanda tawa, bermain gitar, hingga membuli haha. Malam itu kami saling mengenal satu sama lain lebih jauh. Hingga waktu menunjuk pukul 1 pagi, kakak-kakak masih belum tidur karena bermain kartu, sebagian sudah tidur dari jam 9 malam termasuk penulis (tipikal tidur cepat) haha.

Agenda petualangan dimulai dari jam 3 pagi kami harus sudah bangun dan bersiap ke tujuan pertama yaitu Puncak Sikunir. Meski masih mengantuk dan cuaca yang sangat menarik untuk tidur, kami paksa untuk bangun. Pukul 03.45 rombongan kami berangkat menuju sikunir. Harga tiket masuk ke Sikunir yaitu 10 ribu rupiah/orang, namun saat itu kami mendapatkan diskon, yang seharusnya 170 ribu kami cukup membayar 150 ribu (aih sungguh baik bapaknya) XD. Sebelum melakukan pendakian, kami sholat subuh terlebih dahulu. Sangat ramai! Dan beruntung pinta kami terkabul, cuaca saat itu sangat cerah!

Pendakian pun dimulai, pendakian kali ini tidak se-ekstrem pendakian gunung sesungguhnya, jangan bayangkan kami membawa carrier dan tenda haha. Ini adalah pendakian singkat, jalannya halus, dan bertangga. Meskipun menaiki anak tangga, tapi ini cukup melelahkan juga. (gubrakkkk)

Sesampainya di spot pertama keadaan disana sangat ramai, hingga tidak ada tempat bagi kami yang sekiranya cukup untuk “berfoto-ria”. Kami pun memutuskan untuk mendaki lebih tinggi lagi, berharap disana masih sepi. Dugaan kami salah, masih ramai! Kami tidak menyerah untuk mendaki lagi. Akhirnya space untuk kami yang berjumlah 17 orang ini tercukupi di spot ketiga. Melangkahkan kaki sampai sini kami sangat bersyukur, sang fajar bersedia menampakan keindahannya di pagi itu. Golden-sunrise, mereka sebut, pantas saja memang ini adalah matahari terbit yang memancarkan kilau emas! MasyaAllah indah sekali! Kami pun tidak melewatkan momen ini untuk mendokumentasikannya baik video maupun foto. Entah galeri kami sudah tak terhitung jumlah nya kala itu, hingga memori penulis pun hampir full haha.

Pukul 7 pagi, kami pun turun dari puncak. Sebelum pulang ke homestay, kami nongki singkat sekedar minum kopi dan makan gorengan.

Sesampai di homestay, semuanya merebahkan diri karena rasa kantuk yang tidak terbendung, sebagian dari kami tumbang untuk tidur. Sebagian lagi ada yang mandi (ini rajin) dan ada yang masak (ini penulis) haha.

Pukul 11.00 WIB, semuanya pun makan siang. Setelah itu kami menuju wisata berikutnya yang jaraknya sangat dekat, sehingga kami cukup berjalan menuju kesana. Candi arjuna, wisata yang berjarak 350m dari homestay, harga tiket masuk yaitu Rp 15.000,- sepaket dengan wisata Kawah Sikidang. Memasuki kawasan candi, pengunjung yang datang cukup ramai, pemandangan di sekitar candi pun sangat indah, namun ada satu candi yang nampaknya sedang dalam perbaikan. Kami menghabiskan waktu di candi sekitar 1,5 jam lalu kembali ke homsetay untuk shalat dzhuhur dan bersiap-siap meninggalkan homestay.

Pukul 14.00, kami check-out dan menuju ke wisata berikutnya yaitu Kawah Sikidang. Di Kawah Sikidang, penulis menyarankan untuk mengenakan masker wajah karena bau belerang dari kawah cukup menyengat. Namun jika lupa tidak membawanya, kalian dapat membeli masker yang dijual oleh penduduk lokal sekitar Rp 2.000,-/masker. Di kawah ini terdapat banyak spot foto yang menarik, namun spot foto ini berbayar.

Di sini kami tidak lama, karena setelah sesaat sampai di kawah hujan mulai turun, kami pun memutuskan untuk segera pulang. Pukul 16.00, ditengah perjalanan kami singgah terlebih dahulu ke rumah makan Mie Ongklok untuk mengisi perut. Mie Ongklok ini sangat unik, kuah nya seperti lendir dan terbuat dari saus kacang makannya pun dibarengi dengan satay ayam (nyam, nyam, nyamm). Soal harga, ini sangat terajngkau, kalian cukup membayar 8 ribu rupiah saja.

Setelah perut terisi kami melanjutkan perjalanan. Ini sudah final kami pulang menuju markas di Jogja, kami pulang dengan membawa sejuta kenangan menarik selama trip ini. Kami sampai Jogja pukul 9 malam.

Begitulah cerita keseruan trip kami di Dieng, nantikan trip kami selanjutnya!

U M I










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)