SEPUTAR IDIOM NAKAL

| Jumat, 06 Februari 2015 - 06:55:21 WIB | dibaca: 2673 pembaca

Tidak ada anak-anak yang Nakal, Nakal mereka "Nakal" tanpa "N"

Banyak sekali hal-hal baru yang saya dapatkan di Kagem selama kurun waktu kurang lebih 2 tahun ini. Maklum, inilah pertama kali saya mendapatkan pengalaman mengajar dan mendampingi anak-anak SD dan juga SMP. Seorang guru atau pendidik terkadang akan kesal dan marah-marah ketika melihat anak didiknya selalu membuat masalah atau mungkin dalam bahasa sekarang “nakal” dan itu menurut saya wajar, karena saya juga sering mengalaminya di Kagem. Entah sebuah nasib atau anugrah dari yang maha kuasa saya kurang tahu, karena selama di Kagem saya selalu menjadi idola anak-anak yang dikatakan nakal. Namun, terlepas dari itu disini saya mau memberikan sedikit pembelaan bagi mereka yang dikatakan demikian, hehe.

Kenyataan di lapangan memang cenderung mengarahkan pada fenomena demikian, anak yang dalam tanda kutip dikatakan nakal pasti akan berujung pada justifikasi bahwa anak itu bodoh dan pembangkang, dan anak-anak yang cenderung penurut, disiplin dalam mengikuti segala kemauan atau perintah seorang pendidik serta mendapatkan prestasi baik dalam belajarnya, maka anak tersebut dikatakan pintar. Tapi kayaknya yang demikian ini belum atau tidak terjadi di Kagem sih.

"Saat ini konsep kecerdasan sedang booming di masyarakat dan anak yang pintar selalu identik dengan anak yang jago matematika. Padahal anak yang cerdas itu adalah anak yang bisa menemukan hal-hal baru," ujar Efnie Indrianie, MPsi, seorang psikolog anak dari Psychobiometric. Anak yang cerdas adalah anak yang cenderung suka membuat masalah karena anak yang suka membuat masalah menunujukkan bahwa anak ersebut memiliki kreativitas tinggi.

Anak yang nakal atau usil lebih sering disebabkan karena tidak adanya kegiatan yang bisa mereka kerjakan, sehingga pelarian mereka adalah melakukan kejahilan atau mencari masalah dengan teman-temannya. Anak-anak tersebut biasanya cepat bosan dengan pelajaran-pelajaran karena mereka suka dengan hal-hal baru yang menurut mereka menyenangkan.

Dalam buku biopsikologi karya John P.J Pinel dijelaskan bahwa anak yang kreatif umumnya bisa menemukan hal-hal baru atau berhasil menemukan suatu masalah, dan jika dilihat lebih jauh ke dalam otaknya maka sinapsis-sinapsis (pertemuan antara ujung saraf dengan saraf lainnya) akan terlihat ruwet. Jika sinapsis di otak ruwet menandakan adanya koneksi yang bagus antara sel-sel saraf di otak, serta hal ini berarti anak mendapatkan stimulasi yang baik dalam perkembangan otaknya.

Hal ini sesuai dengan konsep dalam kebudayaan jawa yang pernah saya pelajari. Dalam kebudayaan jawa nakal merupakan akronim dari “ Nalar gowo Akal ” atau dalam Bahasa Indonesia disebut Nalar menggunakan Akal. Di dalam alam berpikir dan budaya masyarakat jawa tidak mengenal baik dan buruk, bahkan dalam bahasa sansekerta sampai sekarang belum ditemukan konsep tersebut, karena ternyata setelah saya melihat lebim dalam, terdapat konsep lain yang mendukung hal tersebut, yaitu “ loro-loroning atunggil ” atau dua yang menjadi satu. Konsep ini mengatakan bahwa baik dan buruk, nakal atau tidak nakal muaranya hanyalah pada yang satu yaitu Yang Maha Kuasa, artinya setiap orang memiliki jalannya sendiri dalam memahami dan menuju Tuhannya, baik itu melalui jalan yang baik ataupun jalan yang buruk, sehingga tidak ada dikotomi antara baik dan buruk. Ternyata tidak hanya Jawa yang mempunyai konsep demikian, karena kita juga mengenal yin dan yang dalam konsep yang kebanyakan dipegang oleh masyarakat jepang, oposisi biner dalam matematika dan juga keseimbangan raava, vatu dalam konsep Budha.

Masayarakat jawa di masa lalu bahkan sangat menghargai orang-orang yang nakal karena mereka tahu bahwa orang-orang semacam ini memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan orang-orang lain. Tetapi, seiring perkembangan zaman konsep nakal sendiri telah mengalami pergeseran makna menjadi sebuah kata yang memiliki konotasi negatif, bahkan cenderung digunakan sebagai alat untuk memberikan justifikasi negatif, dan kayaknya nakal dalam konsep terakhir inilah yang kemudian juga mempengaruhi asumsi dari anak-anak sekarang yang cenderung berlaku maladaptive dan destruktif. Sehingga pada akhirnya, siapapun baik pendidik, orang tua ataupun masyarakat luas dianjurkan untuk tidak menggunakan kata tersebut dan kata-kata lain yang memiliki konotasi negatif dalam melakukan justifikasi terhadap anak. Salam "Nakal" dari Najih :) 










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)