Sahabatku Sembuh

| Selasa, 14 Mei 2013 - 18:37:05 WIB | dibaca: 2604 pembaca

Alhamdulillah, sembuh dari sakit DB beberapa minggu  yang lalu. Baru sempat aku tulis sekarang, selama aku hidup baru kali ini kena sakit DB. Bener-bener deh ndak enak, seminggu opname di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta ditemani Mamah dan teman-teman KAGEM yang sudah mau menjenguk. 1 M ya, Makasih.

Awal gejalanya pas bangun tidur pagi, badan udah langsung terasa panas, panasnya ndak nyantai. Panas serasa dibakar, walopun badan ini ndak pernah kena kebakaran sebelumnya. Aku kira panas biasa, aku balik tidur, berharap bangun tidur panasnya turun. Bangun tidur, panas ndak juga turun justru ditambah pusing. Tidur lagi, bangun lagi tetap saja keadaan sama. Ya Allah kenapa aku ini?.

 

Karena sudah ndak kuat, siang hari aku minta tolong suster Sushi dan dibawa aku ke rumah sakit. Setelah diperiksa dan menunggu hasil tes apakah positif DB atau ndak? Dalam hati “Ah, ndak mungkin aku kena DB”. Dan lucunya sebelum masuk kamar inap ditanya suster “Pake kipas angin atau AC?.” Kok nanya kipas angin atau AC? Bukannya suster ini udah tahu kalau kosku pakai kipas angin?.

“Pakai kipas angin sus”, suster mengernyitkan muka. Baru sadar setelah beberapa jam berlalu, ternyata yang dimaksud itu mau kamar inap yang pakai kipas angin atau AC. Hadeuh.

Seminggu dirawat di RS, ada seorang ibu-ibu ngobrol sama Mamah kalau minggu lalu ada anak meninggal karena  DB. Langsung saja Mamah naik darah bilang “Jangan gitu! Anakku ndak akan mati sekarang, anakku umurnya panjang!.” Ya soalnya trombositku drop sampai 23 ribu, dan aku masih bisa bernafas. Hidup. Alhamdulillah.

Yap, mungkin sahabatku ini sedang murung denganku. Siapa lagi sahabatku yang paling setia menemaniku kalau bukan kesehatanku, pasti ini karena sering begadang tak ada gunanya dia marah dan mutung, sahabatku bilang “Lung, aku rela kau apakan saja, aku akan setia bertahan dengan apa pun yang kamu lakukan. Tapi ndak seperti ini, kamu begadangkan aku tanpa ada gunanya”. Ucap sahabatku.

Dia masih terus berucap, begini:

“Lung, siapa lagi sahabatmu yang paling setia selain aku? Kesehatanmu? Kau tak pernah mensyukuriku, kau hanya menggerutu dengan masalahmu. Tapi jarang kali bahkan tak pernah kamu megingat dan mensyukuriku. Sekarang si sakit datang, sekarang kamu bisa apa sahabatku? Kamu masih setia dengan si sakit? Lawan dia! Berdoalah! Ingatlah!.”

“Sahabatku, walopun kamu sudah memperlakukan aku seperti itu, percayalah, aku kan selalu ada untukmu. Menunggumu sampai si sakit pergi dari hidupmu, sebenarnya aku pun cemburu dengan datangnya si sakit di hidupmu. Tapi apa mau dikata, itu bukan mauku dan bukan maumu pastinya. Berjuanglah sahabatku, percayalah kamu pasti bisa melawannya.”

Setelah mendengar perkataan dia aku berdoa, memohon pada Yang Kuasa supaya aku bisa menang berperang dengan si sakit dan semoga si sehat kembali padaku. Sehat, sehat, sungguh, I miss you so bad.

Semingguan dirawat di rumah, dicekokin jamu kunir rapu, angkak, dan sejenisnya sama Mamah aku sembuh juga. Duh, Mamahku memang paling sabar dan hebat.

Sehat, aku pun bisa beraktivitas lagi. Kuliah, bertemu adik-adik dan kakak pengajar di KAGEM. Dan pastinya sahabatku yang satu itu, kesehatanku.

So, jaga kesehatan ya teman-teman. Makan yang teratur, minum air putih yang cukup. Begadanglah, jika ada gunanya. Guna untuk berkarya. Dulu aku pernah fitness, dan dapat pesan dari seorang trainer “Save your money for your body!.” Keep healthy! Semangat berbagi!










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)