Pesantren Kilat Ceria " bagi Fata Hanifa "

| Jumat, 16 Agustus 2013 - 15:40:52 WIB | dibaca: 2654 pembaca

 Yogyakarta – Sebagai relawan yang dianggap tua di KAGEM, saya sudah sering melihat relawan KAGEM melaksanakan sholat wajib berjamaah. Adanya Linggar Eling Gusti di dekat markas KAGEM memudahkan akses peribadatan bagi relawan muslim. Tetapi dari sekian banyak kesempatan sholat berjamaah yang saya tunaikan bersama relawan lain, ada satu kesempatan yang mengharukan saya: sholat subuh berjamaah di markas. Sebab selama hampir dua tahun saya bersama KAGEM, relawan belum pernah sholat subuh berjamaah selain pada kesempatan malam keakraban KAGEM.

 

Tidak hanya itu, Ramadhan kali ini adalah kali pertama yang saya habiskan bersama KAGEM. Senyum dan semangat adik-adik yang mengikuti Pesantren Kilat Ceria menjadi alasan saya bersyukur. Bahwasannya acara perdana ini berjalan dengan baik, masih banyak generasi penerus bangsa yang mau memperlajari agamanya, meski berita seputar disintegrasi sesama umat beragama di Indonesia begitu menyedihkan jika dibaca di media massa. Sebab semestinya agama menjadi sarana untuk mencapai perdamaian bukan menjadi alasan bagi umat hidup dalam ketakutan dan konflik. Pengetahuan seputar agama juga penting ditanamkan kepada anak sejak dini agar kelak mereka tidak mudah dihasut kepada perpecahan.

 

Selain rasa syukur, PKC KAGEM ini membangkitkan gairah bekerja dalam tim dan menggelorakan hati nurani untuk semakin peduli kepada sesama. Hal ini tertuang pada kegiatan membungkus menu takjil untuk adik-adik (dan kegiatan ini sungguh menggoyahkan iman saya alias takut khilaf berbuka sebelum waktunya hehehe) dan membagikan seperangkat nasi berserta lauknya kepada orang-orang di jalanan yang membutuhkan. Berlari-lari menyusuri jalanan dan menyapa orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal di pagi buta yang dingin. Mendengar ucapan terima kasih dari mereka, salah satunya bapak-bapak yang mengumpulkan sampah di sebuah gedung nan gelap, lebih membuat menggigil karena haru. Belum lagi santap sahur sederhana di Boulevard UGM. Kebersamaan yang tidak tergantikan.

 

Khas KAGEM, kegiatan diisi dengan semangat dan canda dari kakak dan adik-adik. Meski saya malu karena belum bisa niat berwudhu dan sholat, adik-adik tetap antusias belajar bersama agar saya bisa menuntaskan niat berwudhu dan sholat. Yah, sempat di-huuuu-in juga sih hehehe. Canda masih tetap mengiringi saat materi tauhid agar tidak sepaneng dan saat penobatan julukan bagi kakak-kakak relawan KAGEM oleh relawan KAGEM. Saya mendapatkan julukan “kakak ter-astaghfirullaah” dan “kakak ter-molor” hehehe, bukannya bangga sebab ini sebagai tanda agar saya instropeksi diri dan berterima kasih atas perhatian sesama relawan terhadap saya. Barangkali juga agar saya terus beristighfar karena saya tidak pernah luput dari dosa.

 

Ya, saya akan menyemangati diri untuk lebih giat berdzikir apalagi habis dapat 2 tasbih hadiah dari prestasi “julukan”. Terima kasih KAGEM atas pengalaman religius di Ramadhan tahun ini! Semoga tahun depan relawan yang turut serta di PKC semakin banyak! Sebarkan terus semangat kebaikan!

 

Fata (@fatanurhaliza)

Anggota Divisi Media KAGEM

Admin @yrbkKAGEM

 

 










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)