Makrab

PERTEMUAN LINTAS GENERASI

| Kamis, 25 April 2019 - 10:06:27 WIB | dibaca: 108 pembaca

Hallo kawan” semuaa.. kali ini ada cerita menarik seputar kegiatan kakak punggawa

Yaaa.. makrab lintas generasi dari kagem jogja.

13 – 14 april 2019 kemarin, Kagem Jogja mengadakan kegiatan makrab untuk calon punggawa, mereka yang mengikuti makrab kali ini adalah calon punggawa yang telah mengikuti oprec pada desember lalu dan telah melewati beberapa tahapan dan akhirnya saat ini resmi menjadi Punggawa Kagem Jogja, untuk yang belum tahu, punggawa itu adalah sebutan bagi relawan yang ada di kagem.

Makrab kali ini bertempat di Wisma Merbabu Kaliurang, dan yang menarik dari makrab kali ini adalah sebagian panitia makrab merupakan punggawa lama kagem (kami biasa menyebutnya sesepuh) yang menyempatkan hadir, dibalik kesibukan mereka.

Seperti kegiatan-kegiatan yang lain, kami berkumpul terlebih dahulu di markas kemudian melakukan perjalanan bersama dan setelah 1 jam perjalanan akhirnya sampai di villa tujuan.

Kegiatan makrab kagem dibuka dengan materi tentang “Sejarah Kagem dan Motivasi Punggawa”. Buat teman-teman yang belum tahu, Kagem dulunya hanya sebuah taman baca bernama “Taman Bacaan Lentera” yang berfungsi untuk meningkatkan minat baca dari siswa salah satu sekolah di daerah Jetisbaran, dan akhirnya sekarang Kagem mulai berkembang menjadi tempat pendampingan belajar untuk anak-anak di Desa Sardonoharjo. Sebagai seorang relawan, materi tentang punggawa yang paling membekas adalah, yang pertama : alasan datang ke Kagem jangan kita gantungkan ke orang lain, kedua : jangan sampai masalah diluar membuat kita berhenti datang, dan ketiga : Jangan Malu untuk datang walaupun sudah lama tidak datang. Karena adik-adik akan selalu setia menunggu kalian. Tak terasa diskusi selama hampir 2 jam telah usai, selanjutnya adalah kegiatan ISHOMA..

Pukul 19.45 kegiatan dilanjutkan dengan menyampaikan peraturan makrab, peraturannya adalah setiap capung maupun punggawa harus memanggil nama temannya sesuai dengan kertas yang mereka dapatkan, contohnya adalah pakde .... (nama orang) atau mbah ..... (nama orang) dll, bagi punggawa yang salah akan mendapat hukuman yakni membuat sebuah gerakan yang akan di tirukan oleh semua temannya.. peraturan ini berlaku selama makrab ya gaesss..

Selanjutnya kegiatan yang paling sakral dalam makrab ini. Pastinya teman-teman sudah tahu,, yapppp benar.. pengukuhan CAPUNG (Calon Punggawa) menjadi seorang Punggawa setelah mereka melewati tahap seleksi pada diri mereka sendiri selama 3 bulan lamanya. Disini mereka akan resmi menjadi keluarga besar dari Kagem Jogja, dan akan meneruskan tongkat estafet dari punggawa-punggawa Kagem terdahulu..

Beralih dari acara yang sakral, sekarang kita akan bersenang-senang sambil menghangatkan badan di depan api unggun.. kegiatan ini kami sebut sebagai “Keakraban Punggawa”, jadi punggawa akan dibagi menjadi 3 orang dalam satu kelompok, dan mereka harus menampilkan suatu yang terbaik dari kelompok mereka. Ada yang menampilkan manusia kepala tiga yang bercerita, dan terkadang ceritanya tidak nyambung. Ada yang menampilkan sesuatu yang aneh seperti gaya berubah power ranger.. wkwkwk.. dan ada juga yang membuat puisi bersambung, dengan tiga tokoh yang berbeda. Puncaknya adalah tebak hewan seperti tapir, siput, dll yang di peragakan oleh Cak Chilmi.

Sinar pagi mulai menyapa, kami bersiap-siap untuk melakuan senam pagi kemudian dilanjutkan dengan berjalan-jalan ke sekitar vila. Sepulang dari telogo putri, sarapan telah menunggu kami sebelum nantinya akan dilanjutkan dengan games “Pasar Rakyat Kagem”.

Game kali ini membutuhkan kekompakan, ketepatan dan perhitungan yang akurat dari masing-masing kelompok. Punggawa dibagi menjadi 3 kelompok, yang setiap kelompok berisi 6 sampai 7 orang. Game ini sama halnya seperti kita berbelanja di pasar, tapi yang membuatnya menarik adalah mereka membeli kebutuhan dengan menjual barang yang mereka kenakan saat itu, seperti jam tangan, baju, sandal, handphone dll. Dan tantangannya adalah mereka harus membuat “RUJAK”. Barang-barang yang disediakan di pasar kagem pun terbatas, jadi memang harus cepat dan tepat wkwk... bagi kelompok yang kekurangan uang, disediakan game tambahan yaitu pindah air dan bakiak. Apabila berhasil maka akan diberi tambahan uang. Karena jumlah barang terbatas, ada kelompok yang tidak mendapatkan ulekan, jadi mereka harus memanfaatkan barang yang ada di sekitar mereka untuk dijadikan ulekan. Setelah permainan selesai, lalu mereka mempresentasikan hasil mereka tentang bagaimana kesulitannya dan filosofi dari rujak yang mereka buat. Namanya pun cukup menarik, ada yang memberi nama rujak sultan, rujak geprek, dan rujak perjuangan. Namun rasa dari rujaknya tak semenarik namanya wkwk.. ada yang benar-benar seperti rasa rujak, ada juga yang seperti rasa pecel.

Selanjutnya adalah bersih-bersih dan packing barang, dan terakhir adalah penutupan dan foto bersama..

Sampai jumpa di kegiatan pertemuan lintas generasi selanjutnya dengan tempat, kegiatan, dan keseruan yang berbeda..  

   

-Hadyan-