mana aksimu kawan-kawan pemuda??

Peringatan Sumpah Pemuda: Pemuda Berkontribusi melalui Komunitas

| Rabu, 28 Oktober 2014 - 08:13:41 WIB | dibaca: 3266 pembaca

Pada masa pra-kemerdekaan, nasionalisme diidentikkan dengan semangat melawan kolonialisme. Kini, nasionalisme harus dimaknai sebagai semangat kaum muda berkreasi dan berinovasi untuk Indonesia.
Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh mahasiswa untuk berkontribusi kepada bangsa adalah dengan berbagi melalui berbagai aktivitas sosial. Di kalangan mahasiswa, kini terdapat banyak komunitas yang bisa menjadi jembatan untuk menyalurkan kepedulian sosial. Komunitas-komunitas pemuda ini kebanyakan mengambil peran dalam bidang edukasi masyarakat.
Dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda, Selasa (29/10) Youth Studies Center (Yousure) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM menggelar acara “Talkshow and Community Exhibiton”. Acara yang dihelat di Hall Fisipol UGM ini menghadirkan sejumlah komunitas mahasiswadi Yogyakarta. Dengan tajuk “Ini Karyaku, Mana Karyamu Untuk Bangsa?” belasan komuntas saling berbagi pengalaman aktivitas sosial yang pernah dilakukan.
Komunitas Rumah Belajar Indonesia Bangkit (RBIB) yang sudah setahun aktif mengajar anak-anak bantaran Kali Code Yogyakarta menceritakan awal mula kemunculannya. Momentum Kebangkitan Nasional 4 Mei 2013 menjadi tonggak lahirnya komunitas ini. “Kami rindu akan kebangkitan Indonesia yang dimulai dari bidang pendidikan,”kata David Mazmur, salah satu relawan.
Tiap Rabu dan Jumat sore, para relawan RBIB mendampingi anak-anak usia prasekolah, PAUD, TK,dan SD di bantaran Kali Code belajar. Sesuai namanya yang menggunakan kata “Rumah”, RBIB memberi sentuhan kekeluargaan lewat cara belajar sambil bermain bersama para relawan yang berasal dari berbagai kalangan mahasiswa. Untuk membangkitkan semangat mereka, RBIB mengusung slogan, "Indah Masa Depanku, Harmonis Keluargaku, Sejahtera Indonesiaku.”
Senada dengan RBIB, Komunitas Rumah Belajar Kaki Gunung Merapi (Kagem) Yogyakarta yang juga hadir hari itu pun memiliki kepedulian yang sama terhadap pendidikan. Tidak meratanya pendidikan di Indonesia membuat para mahasiswa relawan Kagem tergerak untuk meluangkan waktunya mendampingi anak-anak kaki Gunung Merapi belajar, tidak hanya materi pelajaran sekolah tapi juga softskill. “Ketika melihat ada masalah, sebagai pemuda kita semestinya tidak hanya mampu mengutuk keadaan tapi juga bertindak secara solutif,” ujar Utha Putri Wahyu, relawan Kagem.
Selain RBIB dan Kagem, komunitas lain yang tak ketinggalan hadir adalah Saung Mimpi, Senyum Community, Piknik Museum, Dreamdelion, Akber Yogyakarta, Kipas, Sanggar Cantrik, Muda Menginspirasi, KAMMI Mengajar, Peace Generation dan Mer-C Yogyakarta. Masing-masing dari mereka membukastand berisi hasil kreasi dan dokumentasi kegiatan selama ini.
Di samping pameran, dalam acara itu juga digelartalkshowdengan tema memaknai kiprah pemuda dalam kerangka nasionalisme. Supriandi, salah satu pegiat komunitas Mahasiswa dan Siswa Anti-Korupsi (Mahasaksi) tampil menjadi salah satu pembicara. “Korupsi jika dibiarkan akan merembet kemana-mana. Maka, bentuk perlawanan kami terhadap korupsi adalah dengan membentuk komunitas,” ujarnya. Komunitas yang dirintis beberapa aktivis kampus UGM pada 2012 ini telah melakukan berbagai aksi dalam rangka membangun kesadaran pemuda terhadap perjuangan anti-korupsi. Selama ini program Mahasaksi meliputi sosialisasi dan kampanye anti-korupsi baik secara langsung maupun melalui media sosial. Program-program mereka antara lain Mahasaksi Ambassador, Mahasaksi Open Mic, Mahasaksi Village, Mahasaksi Corner, Mahasaksi In Action, dan Mahasaksi Roadshow.
Sementara itu, bergerak di jalur yang berbeda,narasumber lainnya, Aditya Herwin, Presiden BEM KM UGM, mencoba menepis rasa antipati mahasiswa terhadap politik. Menurutnya, antipati mahasiswa terhadap politik muncul karena citra buruk praktik politik yang disuguhkan media selama ini. “Padahal, politik bisa dimaknai sebagai pengabdian untuk memperbaiki bangsa, bukan merebut kekuasaan demi kepentingan probadi atau golongan,” ujarnya. Bersama BEM KM UGM, Herwin berupaya memberi kontribusi kepada masyarakat melalui kegiatan pencerdasan politik, serta pendampingan kelompok tani dan desa binaan.
Aktifnya kaum muda dalam berkontribusi melalui komunitas pun mendapat apresiasi dari Dekan Fisipol UGM, Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si. Menurutnya, peringatan Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi momentum mendorong pemuda melahirkan karya-karya yang bisa memajukan bangsa. ”Orang-orang muda harus siap mewarisi kepemimpinan bangsa dan negara Indonesia ke depan,” pungkasnya.(Khalimatu Nisa – Mahasiswa Jurusan Politik Pemerintahan, Fisipol UGM)










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)