Minggu Sederhana yang Bahagia

| Jumat, 07 Februari 2014 - 14:20:43 WIB | dibaca: 2795 pembaca

Minggu pagi, seperti biasa untuk sebagian orang adalah hari untuk bangun siang, dan sebagian lagi adalah hari untuk bangun pagi berolahraga bersama keluarga. Aku sendiri memilih bangun lebih awal untuk membereskan rumah lebih awal. Minggu pagi ini aku akan menemani adik-adik istimewa yang bersemangat sedari pagi sudah berdandan ayu. Mereka akan menari. Keempat adik ini adalah Gadis, Salsa, Ainur, dan Vera serta 5 adik lain yang ikut untuk menyaksikan keempat temannya menunjukkan kemampuan olah tubuh mereka. Memang masih sebuah tampilan yang sederhana, tapi ini tidak biasa. Mereka bergegas menuju salah satu tempat yang banyak dikunjungi orang ketika berada di Jogja, Benteng Vredenburg. Adik-adik diantar oleh dua kakak yang rela bangun pagi, yaitu Kak Lulung dan Kak Tibyan. Dua kakak tersebut mengantar adik-adik yang bersemangat ini menuju panggung.

Setibanya di Benteng, adik-adik tidak perlu menunggu lama untuk menunjukkan kemampuan mereka menyajikan tarian yang bertema dolanan. Tak lupa, ada dua kakak yang ikut datang menemani adik-adik untuk bermain hari ini, yaitu Kak Molly dan Kak Utha (menunjuk hidung sendiri). Adik-adik Kagem datang ke Benteng Vredenburg dalam rangka memeriahkan acara festival dolanan anak. Istilah “dolanan” dalam bahasa Jawa memiliki arti “mainan”. Acara yang dibuka untuk umum dengan peserta utama adalah anak-anak ini bertujuan untuk mengenalkan kembali kepada anak-anak permainan tradisional yang pada masa kini amat jarang ditemui. Adik-adik dari Kagem turut menjadi peserta dalam acara ini sekaligus penampil yang hadir dan berasal dari Yogyakarta. Perlu diketahui bahwa acara ini juga serentak diadakan di 5 kota di Indonesia.

Saat kegiatan berlangsung, anak-anak dengan  masing-masing pemandu menuju pos-pos dolanan. Ada 4 pos dolanan yang disediakan oleh penyelenggara yang wajib dikunjungi oleh adik-adik. Pos dolanan tersebut adalah cublak-cublak suwang, oglak-aglik, dakon, dan ular naga. Selain itu ada stan pilihan yang bisa dikunjungi para pendamping sembari menunggu anak-anak bermain. Ada permainan gasing, egrang, batok Sunda, engklek, gobak sodor, bakiak, dan rodaan.

Acara berlangsung dengan lancar. Bagi anak yang bisa menjalankan permainan akan mendapat stempel untuk ditukarkan dengan hadiah yang di berikan saat akhir kegiatan (tentu saja). Adik-adik Kagem mendapatkan tiga stempel yang berhak untuk ditukarkan dan mendapatkan hadiah berupa gasing. Hal tersebut bertujuan agar nantinya sesampai di lingkungan asal mereka dapat bercerita mengenai permainan tradisional yang mereka kenal.

Permainan tradisional yang telah dikenalkan ini bukan hal biasa. Mengapa demikian? Karena permainan sederhana tidak perlu listrik, tidak perlu uang, cukup ambil di pekarangan rumah seperti kerikil misalnya kita sudah dapat bermain dakon, dengan pecahan genteng, cukup gambar beberapa persegi lalu kita dapat bermain engklek. Sebagai orang yang sempat merasakan permainan tradisional, kita perlu mengenalkan kepada anak-anak tentang permainan-permainan tersebut di luar acara ini. Kita perlu memberi pengertian kepada anak-anak bahwa untuk bermain tak selalu menunggu saat ada acara khusus seperti ini. Sebagai orang yang juga lebih dewasa, jika kita memiliki waktu luang dan ada tanah lapang, kenapa tidak kita mencoba permainan yang akan mengasah motorik kasar anak sebagai selingan permainan anak. Tidak membutuhkan lahan sangat luas, cukup sebatas layar 5x10cm saja, kita pun bisa menemani mereka dengan permainan tradisional.

 

-uthaputri










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)