LUMPUR PENEBUS DOSA

| Jumat, 07 Februari 2014 - 18:36:07 WIB | dibaca: 6150 pembaca

Kalian tahu, ada cara baru lho untuk menebus dosa-dosa kita. Tidak perlu melakukan hal-hal baik dulu, juga tidak perlu masuk neraka dulu untuk “menebus dosa”. Mau tahu bagaimana caranya? Hehe, di KAGEM dosa kita bisa ditebus hanya dengan merelakan diri kita untuk dilumuri dan dilempari lumpur, dosa besar dan kecil mendapatkan bobot sama, tidak ada yang membedakan, yang penting semua harus terkena lumpur, bahkan yang tidak berdosa sekalipun.

Inilah yang dilakukan di Makrab KAGEM pada sabtu (28/12) lalu. Makrab yang dilakukan selama dua hari satu malam tersebut diselenggarakan di desa wisata Brayut. Makrab (malam keakraban) tersebut dimulai dengan perkenalan dari masing-masing relawan dengan nama asli, karena setelah itu ada pembagian undian nama panggilan yang ndeso dan harus selalu dipakai selama acara makrab berlangsung. Kebetulan, saya kebagian nama Turkiyem, sebenarnya nama buat cewek sih, tapi mau gimana lagi, dapetnya itu e. Akhirnya, supaya kelihatan kecowok-cowokan ditambah dengan embel-embel Pak de, jadinya temen-temen harus memanggil saya dengan nama Pak de Tur.

Selain nama Turkiyem, masih banyak lagi nama aneh-aneh yang ndeso, seperti Tulkiyem, Paijo, Tarmo, Supri, dan lain-lain. Masing-masing nama ndeso tersebut telah disandangkan dan di-nasimerah-kan kepada setiap relawan. Bagi siapa saja yang salah menyebut nama maka akan dicatat oleh malaikat pencatat amal buruk karena itu terhitung dosa, dan siapa saja yang mempunyai dosa akan mendapatkan hukuman yang setimpal atas dosa yang dilakukan.

Setelah pembagian nama ndeso tersebut ternyata masih banyak relawan-relawan yang keceplosan memanggil nama asli dari setiap relawan dan hal tersebut akhirnya menjerat mereka dalam limbah dosa. Dosa-dosa mereka terkumpul satu per satu dari setiap kegiatan yang diikuti, dari ketika makan siang dan juga ketika kegiatan belajar cara membuat batik tulis secara langsung.

Setelah acara belajar batik-membatik selesai, tibalah saatnya “penebusan dosa” di kolam penuh lumpur. Pada awalnya, kegiatan yang berlangsung di kolam ini hanyalah nguber ikan bareng, dan ternyata di situ kami mendapatkan banyak ikan. Entah kenapa di sela-sela kami mencari ikan ada yang melempar lumpur sebagai “penebus dosa”. Ternyata di kolam ini Pak de Tur masih bisa lolos dari hukuman lumuran lumpur. Tetapi ketika di tempat lain, yaitu ketika belajar bercocok tanam di sawah, Pak de Tur tidak bisa menghindar lagi dari gempuran senjata lumpur yang dilancarkan oleh sekian banyak relawan. Bahkan tidak hanya Pak de Tur dan para “pendosa” saja, tetapi relawan-relawan yang tidak mempunyai dosa pun ikut tertembak peluru lumpur tersebut. Jadilah kami di dalam sawah tersebut bermain dan berlumpur-lumpur ria satu sama lain.

Acara berlumpur ria dan penebusan dosa tersebut selesai setelah kami merasa puas bermain-main dengan lumpur dan juga berfoto-foto ria di sawah tersebut. Tidak lupa, setelah kami berlumpur ria kami mandi bersama di aliran sungai irigasi yang mengalir di sepanjang sawah tersebut. Kegiatan-kegiatan tersebut sungguh sangat berasa di hati, meskipun Pak de Tur tidak bisa mengikuti acara makrab sampai selesai, bahkan tidak sempat melihat dan mendapatkan poin “MA”-nya, yang penting setidaknya Pak de Tur senang karena Pak de Tur telah mendapatkan  poin dari Makrab tersebut, yaitu kata “KRAB”.

M. Najih alias Pak de Tur alias Mas Gondrong

dalam rangka “penebusan dosa” (juga) hehe










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)