duduk bersama aktifis forum anak Indonesia

KUNJUNGAN MENGINSPIRASI

| Jumat, 22 April 2016 - 15:08:03 WIB | dibaca: 1943 pembaca

Assalamualaikum…, sedikit ingin berbagi kepada shabat bahwa tepatnya kemaren minggu 7 febuary 2016 punggawa kagem kedatangan tamu spesial yang sangat menginspirasi dalam pengenbangan pendidikan di Indonesia  seabab beliau adalah salah satu dari ratusan bahkan ribuan dari sahabat kita yakni forum Anak Indonesia yakni Desi Rahmawati , salah satu program mereka adalah pembudayaan anak.

Kurang lebih 2 jam beliau shering tentang pendidikan anak di Indonesia serta pengalaman beliau selama berkecimpung sebagai relawan muda mualai dari sekolah yang berada di gunung, pesisir pantai, perkotaan, sekolah anak jalanan dan bahkan sekolah yang berada di pelosok yang harus di jangkau dengan bejalan kaki dengan jarak berkilo – kilo hanya demi menjamah dunia pendidikan. Dari beberapa pengalaman yang beliau ceritakan ada beberapa yang sangan menarik untuk di ulas dan bahkan ini adalah sebuah pengetahuan baru bagi sahabat Kagem , yakni mengenai tingkat pelecehan seksual terhadap anak yang semakain melambung tinggi dan tidak mampu di bendung yang menjadi pembahasanya bukan apa penyebab dari pelecehan seksual tersebut tetepi masalah pendidikan seoarang anak yang berada di dalam lapas. mengapa hal tersebut sangat menarik untuk di bahas ? karena dalam peraturan UU  NO 20 tentang pendidikan nasional ( SEDIKNAS) sudah jelas terterah bahwa setiap anak di indonesi baik dari golongan manapun harus mengeyam pendidikan 9 tahun dan bahkan 12 tahun lamanya.

Tetapi masih mirisnya tentang penerapan peraturan tersebut Karena seorang anak yang mestinya masih menikmati dunia pendidikan malah mengurungkan niatnya dan harus berada di balik jeruji besi. Sebab selama di dalam lapas mereka tidak merasakan pendidikan formal dan bahkan pendidikan nonformalpun sangat sulit mereka dapatkan. Ini adalah sustu  pertanyaan besar yang tak tentu harus di lemparkan ke pada siapa, kalu kita mengacu terhadap peratun SIDIKNAS tenteng wajib belajar, mengapa mereka yang berda di dalam lapas yang semestinya masi merasakan dunia pendidikan mlah tidak mersakan. Dimana kebijakan pemerinta terhadap mereka ? apakah cukup hanya melakuakan bimbingan terhadap mereka atau fasiliatas lainnya yang tidak sederajat dengan fasilitas pendidikan.

Maka dari sisnilah saudara kita yang dari Forum Anak Indonesia membuat suatu trobosan dalam menggerakan pendidikan anak yang masi berada di dalam lapas, dari mulai membimbing meraka dalam menciptakn prestasi dan dalam mengejar paket sehingga bias melanjutkan pendidikan selanjutnya sehingga mimpi mereka tidak hanya berada di balik jeruji besi. Tidak hanya sampai di situ saja masalahnya setelah mereka keluar maka timbulah masalah baru ayang lebih beret mereka jalani ,mereka terhentam kerasnya hantaman sosial dari masayarakat baik berupa ejekan, bulian dari teman bermain dan smapai dengan pengucilan dari masayarakat, ini merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk mereka jalani dari pada berada di balik jeruji besi, maka dari sinilah tercipta sebuah tekanan sehingga mereka mampu menciptakan sebua prestasi dan masyarakat pun yang tadinya hanaya memandang sepenuhnya dari sisi negatif maka dapat mengalikan ke posisi positif secara berlahan, Sehingga ketika berada di lingkungan sosial masyarakat dapat di terima.

Dan jika kita beranjak dari wajib belajar 9 tahun dan bahkan 12 tahun maka ada suatu hal yang harus kita pertimbangkan, apakah mungkin bagi mereka yang berada di pelosok yang tidak memiliki akses kendaraan ke sekolah yang harus di tempuh dengan berjalan kaki dengan jarak berkilo-kilo, jalan yang becek dan menakutkan yang harus di tempuh selama 9 tahun lamanya. Ini adalah sebuah hal yang tidak masuk akal, jika pemerinta membuat sebuah kebijakan tersebut maka pertimbangan manakah yang mesti patut dipertimbangkan, tidak hanya dalam meningkatkan fasilitas sekolah saja tetapi sarana transfortasi perlu di pertimbangkan maka tidak heran banyak anak – anak yang hari ini sudah sangat luar biasa dalam kemajuan teknologi masih berenang menyeberangi sungai demi pendidikan. Menurut penulis ini adalah sebuah PR bagi kita semua, bagaimana mungin pendidikan kita bisa maju sedangkan dalam melakukan proses pendidikan sangatlah sulit.

 ‘’Janganlah mengabaikan suatu kebaikan sekecil apapun, meski hanya menjumpai saudaramu dalam keadaan muka yang berseri – seri (HR. muslim dan Tarmidzi ).

                                                                                                                                                                      Alis_UII










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)