Jagongan Kagem

| Selasa, 23 April 2013 - 18:43:06 WIB | dibaca: 2325 pembaca

“Pentingnya Memanfaatkan Masa Muda untuk Berkarya”

Minggu (21/4/13), siang itu sekitar pukul 13.00 WIB di gazebo Kagem tampak tidak seperti biasanya. Terlihat ramai oleh beberapa teman relawan, bunda, pakdhe, dan ternyata hadir seorang bapak muda yaitu mas Arie Sujito dosen Fisipol UGM yang juga merupakan seorang sosiolog juga peneliti senior IRE Yogya. 

Ditemani segelas es degan yang sueger dan angin siang yang sepoi-sepoi (dan tumben saya tidak tidur), mas Arie membagikan ilmu serta pengalamannya. Menurut mas Arie masa muda merupakan masa yang sangat penting untuk mengembangkan nilai-nilai idealisme. Salah satunya menjadi aktifis, menjadi aktifis itu tidak hanya terlibat dan aktif dalam suatu organisasi, ikut demo, orasi, dll. Tetapi aktifis itu lebih kepada kegiatan atau sumbangsih yang bisa kita lakukan untuk masyarakat dan lingkungan di sekitar kita (ini lebih “relawan” saya menyebutnya). Dan mas Arie sangat mengapresiasi kerelaaan kita menjadi relawan di Kagem tercinta :).

Dengan menjadi relawan secara tidak langsung kita mendapatkan pelajaran kehidupan seperti kepekaan, kepedulian, tanggung jawab, kebersamaan, serta gotong royong yang hanya dipelajari secara teori pada waktu Tk sampai perguruan tinggi. Dan sekarang kita bisa praktekkan langsung di Kagem, mengutip kata pakdhe “Jadi mahasiswa itu biasa jadi relawan itu luar biasa” :) 

Obrolan kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi, (tidak lupa sambil nyeruput es degan :)) dan teman-teman relawan Kagem memanfaatkan untuk bertanya tentang segala hal, yang berkaitan dengan tema tentunya.

Mbak Dyah dan Fata segera mengajukan pertanyaan yaitu” apa tanggapan mas Arie ketika kita terlalu aktif sebagai aktifis dan kuliah menjadi terabaikan”? “mengapa gerakan mahasiswa sekarang tidak gencar lagi seperti dulu, apakah karena musuh bersama mahasiswa sekarang sudah berbeda (punya kepentingan masing-masing)? Apakah demontrasi masih dibutuhkan?

Menjadi aktifis itu tantangannya membagi waktu, oleh karena itu harus memiliki management waktu yang baik dan memiliki target yang harus dicapai. Harus bisa menyeimbangkan antara kegiatan di luar akademik dan kewajiban sebagai seorang mahasiswa . Sebaiknya antar teman di lingkungan komunitas bisa saling mengingatkan supaya kita tidak terlena dengan kegiatan sebagai aktifis. Antara kegiatan sebagai aktifis dan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa sebaiknya tidak saling mengganggu tetapi saling mendukung, melengkapi dan memotivasi.

Zaman sekarang tantangan menjadi aktifis semakin kompleks dan untuk menjadi aktifis itu pilihannya macam-macam, demo itu salah satunya, dan tidak hanya itu saja , banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadi aktifis seperti membantu anak-anak kurang mampu, membantu masyarakat seperti KKN, menulis di media massa untuk kepentingan edukasi, tinggal kita memilih dan mau menjadi bagian aktifis yang bagaimana? Sedikit menyitir kata pakdhe “bekerja / berkegiatan karena kemuliaan untuk misi kemanusiaan” rasanya boleh juga kita terapkan. Tanpa dirasa kadang kita melakukan kegiatan bagai robot yang kurang manfaat : kuliah, kantin, nonton, jalan di mall, pulang.

Pertanyaan lain datang dari Erik juga Puja “bagaimana menumbuhkan keyakinan untuk bangga kepada karya sendiri” ? ” idealisme itu sendiri apa”? (ehehe, saya juga dari tadi nyimak agak-agak gak dong :p )

Jangan terbiasa dengan kebiasan copas, copy paste. Dan mengusahakan orang lain untuk bisa menghargai karya kita dengan cara menghargai karya orang lain dan penting”bangga”kepada karya sendiri terlebih dahulu. Terus, bagaimana cara menghargai? belajar berkarya dan ketika karya tidak diterima orang lain, kita tidak menjadi terpuruk tetapi belajar untuk berkarya yang lebih baik. Penting menjadi subjek jangan menjadi objek. Berani berbicara dalam diskusi, mengemukakan pendapat, mau dikritik, memberi saran, dan terlibat pada setiap. Serta perlu diadakannya forum-forum diskusi berkala supaya tidak sendirian dalam memperjuangkan idealisme kita.

Idealisme itu berangkat dari sebuah ide yang menjadi sebuah pengharapan ideal, nilai-nilai ideal yang ingin diraih menjadi sebuah cita-cita. Idealisme patokannya nilai, tidak harus perfect. Kita tidak akan mati karena idealisme. Dan cita-cita merupakan tanda kehidupan,”kalau anak muda tidak punya cita-cita itu merupakan tanda-tanda penuaan dini” tua sebelum waktunya, fisik muda tapi jiwa tua. Perlu diingat bahwa ketika kita memberi ilmu untuk orang lain seperti kegiatan di Kagem kita juga bisa mendapatkan ilmu yang lain dari kegiatan yang kita lakukan sekarang yang pasti tidak didapatkan pada bangku kuliah.

Intinya dari jagongan Minggu siang kemarin adalah, bagaimana kita memperjuangkan idealisme kesampingkan fikiran menang/kalah, bisa/tidak bisa, mungkin/tidak mungkin karena idealisme itu cita-cita yang harus kita miliki supaya kedepannya bisa memberikan manfaat bagi lingkungan disekitar kita. Oh ya, kata mas Arie menjadi relawan merupakan suatu “kemewahan” lho jadi kita-kita sesama mahasiswa yang sering “puasa” di akhir bulan, tidak perlu kuatir tidak mempunyai apa-apa karena sesungguhnya kita punya sesuatu yang mewah dan kita sangat kaya dengan menjadi relawan :).

@ikawe_duss

 










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)