everlasting tuck

| Rabu, 23 Oktober 2013 - 09:29:44 WIB | dibaca: 2652 pembaca

Judul : Tuck Everlasting.

Penulis : Natalie Babbitt

Penerjemah : Mutia Dharma

Penerbit : Atria, Jakarta

Tahun Terbit : Oktober 2010

Jumlah Halaman : 172 halaman

ISBN : 978-979-024-458-0

 

Bermula dari iseng mencari buku bacaan baru di Taman Baca Lentera milik KAGEM, saya bertemu dengan buku ajaib ini. Sampul depan dan tebal buku yang biasa-biasa saja awalnya membuat saya tidak tertarik. Judulnya juga aneh. Tetapi ada satu kalimat di sampul depan yang akhirnya memaksa saya untuk membaca buku ini: bagaimana jika kamu bisa hidup selamanya?

Buku terjemahan ini bercerita tentang gadis usia 10 tahun bernama Winifred Foster Jackson yang hidup sebagai burung dalam sangkar emas di hutan Treegap milik keluarganya. Winifred yang akrab disapa Winnie bertemu Jesse, remaja tampan berambut ikal berusia 17 tahun, saat ia hendak melarikan diri dari kehidupan rumahnya yang membosankan. Siapa sangka pertemuannya dengan Jesse membawanya berakhir ke rumah keluarga Tuck di daerah antah berantah nan indah. Di rumah yang sederhana dan kumuh itu Winnie diamanahi rahasia sangat berat: keluarga Tuck tidak dapat mati lantaran meminum mata air di hutan Treegap yang tadi disinggahi Jesse saat bertemu dirinya!

Semula Winnie ketakutan karena ia belum pernah pergi dari rumah apalagi tinggal di rumah penuh tikus dan sarang laba-laba seperti rumah keluarga Tuck. Belum lagi ternyata ada yang mencuri dengar rahasia tentang mata air itu dan hendak memperdagangkannya. Si pencuri rahasia itu adalah pria berjaket kuning yang merupakan cucu dari Miles Tuck dan hendak membuktikan cerita neneknya yang meninggalkan suaminya karena dianggap sebagai penyihir. Hingga Mae Tuck harus dipenjara dan Winnie Foster dihadapkan pada pilihan berat dalam hidupnya: menikahi Jesse yang ia cintai dan hidup selamanya atau pilihan lain?

Keunggulan dari buku ini menurut saya jelas terletak pada kata-kata bijak yang diselipkan penulis di dalam cerita sehingga buku ini pantas dibaca oleh semua umur tanpa terkesan menggurui dan membosankan. Deskripsi dalam buku ini imajinatif seperti buku terjemahan pada umumnya, sangat pantas menstimulus kreativitas anak-anak. Bahasanya tidak berat dan tidak mengandung unsur yang memberikan doktrin negatif bagi anak. Penulis secara tidak langsung mengajak pembacanya untuk merenungi apa tujuan kita hidup di dunia ini? Akankah kita mensyukuri hidup yang sudah kita jalani seperti keluarga Tuck? Tak heran New York Times memuji buku ini.

Selain kelebihan yang telah saya sebut di atas, ada kekurangan dalam buku ini, yaitu cerita yang sangat sederhana sehingga kurang memuaskan untuk remaja seusia saya dan akhir cerita buku ini tidak seperti yang saya harapkan, hehehe. Sangat disayangkan juga buku ini tidak se-best seller Harry Potter atau cerita lainnya.

Ada satu percakapan antara Tuck dan Winnie di danau saat malam hari yang mengesankan saya, “Waktumu (mati) bukan sekarang. Tetapi kematian adalah bagian dari roda itu, persis di samping kelahiran. Kau tidak bisa memilih bagian yang tidak kau sukai dan menyisakan yang lainnya. Menjadi bagian dari semuanya adalah sebuah anugerah.”

Nah, selamat membaca dan merenungi: bagaimana jika kau bisa hidup selamanya?










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)