Desa Sardonoharjo (Bagian 2)

| Senin, 08 Desember 2014 - 15:24:53 WIB | dibaca: 5074 pembaca

Lihat bagian 1 

Lingkungan dan pendidikan mempengaruhi mata pencaharian, dengan  tanah yang lebih dari 50% berupa tanah sawah, wajar jika penduduk Desa Sardonoharjo mayoritas berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Sebagian lagi berprofesi sebagai pegawai negeri baik PNS, TNI/ POLRI, karyawan swasta dan wiraswasta seperti berdagang. Masyarakat berusia produktif juga diusahakan oleh pemerintah desa untuk mengelola UMKM, baik UMKM mengenai kerajinan seperti wayang kulit, pangan, sandang dan kebutuhan tersier seperti makanan ringan berupa keripik bayam.

Potensi pertanian, peternakan, dan masyarakat menjadi sasaran utama program pemerintah desa. Pak Harjuno Wiwoho menyatakan bahwa PemDes (Pemerintah Desa) sedang mengusahakan program pengembangan UMKM untuk penduduk berusia produktif. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) menjadi wadah bagi pemuda dan penduduk usia produktif untuk dapat berwirausaha sekaligus memmanfaatka potensi yang ada. Bantuan modal 20 – 30 juta /UMKM yang digeleontorkan oleh pemerintah DIY sangat membantu 10 orang yang tergabung dalam KUBE untuk mengusahakan dan mengembangkan usahanya. Saat ini sudah ada 27 KUBE yang terbentuk di Desa Sardonoharjo. Potensi masyarakat juga menjadi langkah pemerintah untuk membentuk KUBE di bidang jasa. Dengan pelatihan keterampilan yang diadakan oleh PemDes 2-3 kali setahun, masyarakat diajarkan berbagai macam keahlian misalnya keterampilan otomotif dan las.

Potensi kesenian dan olahraga juga sangat berkembang, diwadahi oleh sangggar-sanggar seni, masyarakat diajarkan berbagai kesenian seperti Jatilan, Ketoprak, Serandul sampai Calung. Olahraga juga dijadikan sarana untuk mendulang prestasi, terutama olahraga Bola Volly dan Bulutangkis.

            Tidak ada keunggulan tanpa permasalahan, saat musim kemarau hanya 20% lahan petanian yang terairi. Pengelolaaan pengairan konvensional menjadi dalang timbulnya permasalahan ini. Belum ada pengairan terpusat untuk mengairi lahan sehingga pengairan tidak merata.

            Masalah toleransi terutama toleransi beragama bisa dikatakan kurang, mayoritas beragama islam menjadi penyebab warga desa kurang dapat menerima kehadiran tempat peribadatan baru selain mesjid dan mushola. Ini menjadi PR PemDes dan tokoh agama unuk dapat menumbuhkan toleransi beragama.

            Setelah lebih dari satu jam dipotong dengan makan bakso yang disuguhkan oleh Pak Kepala Desa akhirnya pertemuan kami hari itu dengan beliau berakhir. Disambut dengan mendung dan rentik hujan kami kembali ke Markas Kagem dengan berbagai pikiran mengenai desa. Apalagi yang akan kami liput dan bisa kami abadikan dalam bidikan kamera.

 

Dewi Purwati 










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)