Desa Sardonoharjo (Bagian 1)

| Minggu, 07 Desember 2014 - 05:14:23 WIB | dibaca: 4356 pembaca

Hari itu adalah pertemuan kedua Ranger Media KAGEM sekaligus pertama kalinya saya mengunjungi Desa Sardonoharjo sejak saya dinyatakan lolos untuk bergabung dengan Media KAGEM. Bersama kak Byan, Mbak El, Mbak Fata, Eni, Mas Alif dan dek Fathur kami mengunjungi Kepala Desa Sardonoharjo, Bapak Harjuno Wiwoho. Hari Minggu memang hari libur, oleh sebab itu beliau berkenan dikunjungi di rumahnya. Rumah dengan gaya tradisional dan dipenuhi ukiran Jepara ini mengisyaratkan pemilik rumah yang masih mempertahankan tradisi kejawaan. Pikiran saya langsung mengarah pada sosok Kepala Desa yang kalau orang bilang Jawa Banget lah-red . Akhirnya setelah sekitar 20 menit menunggu, kami bertemu dengan Pak Harjuno Wiwoho. Beliau langsung menceritakan mengenai keadaan desa, potensi, karakter penduduk, program pemerintah desa, sampai pada pengalaman beliau memimpin desa berpenduduk hampir 18 ribu jiwa ini.

Berbicara mengenai Desa Sardonoharjo, desa ini berada ditengah-tengah lajur Jalan Kaliurang, yaitu jalan yang membelah Yogyakarta bagian Barat dan Timur. Desa ini terletak antara Jalan Kaliurang KM 8 sampai Jalan Kaliurang KM 13. Jika anda menyusuri jalan pembelah Yogyakarta ini dari bawah, anda akan menemukan Kantor Kepala Desa ini di sebelah kiri jalan Kaliurang KM 10. Sekitar 30 menit dari pusat kabupaten Sleman. Desa ini berbatasan dengan Desa Umbul Martani di sebelah utara, Desa Sinduharjo sebelah selatan dan timur, serta Desa Donoharjo di sebelah barat.

Desa dengan luas hampir 900 hektar ini didominasi oleh tanah basah. Hampir 3/dari seluruh luas desa adalah sawah dan ladang. Jadi jangan aneh jika anda berkunjung ke desa ini, disisi-sisi jalan penglihatan anda akan didominasi oleh warna hijau dari daun dan rumput. Jalannya tidak selebar jalan raya, namun cukup panjang untuk disusuri. Berkeliling desa ini tidak akan cukup hanya dengan waktu 100 menit. Jalan desa yang bercabang-cabang membutuhkan lebih dari sekali berkeliling untuk mengingatnya. Anda yang tinggal di Kaliurang bawah atau daerah setelah perempatan Kentungan tidak akan membayangkan bahwa tidak jauh dari pusat kota, anda bisa menghirup udara bersih nan sejuk. Ya, desa yang masih asri dan hijau. Cocok untuk anda yang ingin melepas penat setelah enam hari duduk di kursi kantor ruangan ber AC. Saya bukan promosi desa, tapi begitulah keadaan desa ini sebenarnya.

Desa dengan 18 pedukuhan dan 160 Rukun Tetangga ini dipenuhi oleh penduduk berusia muda, lebih dari 500 jiwa berusia kurang dari <12 bulan. Sementara untuk usia >75 tahun berjumlah dua ratus-an jiwa. Dari 18 ribu jumlah penduduk yang mayoritas beragama islam ini, populasi penduduk laki-laki dan perempuan hampir berimbang. Untuk populasi tahun 2013 sendiri, penduduk perempuan berjumlah 8.500 sedangkan laki-laki berjumlah 8.900 jiwa. Tingkat pendidikan penduduk desa rata-rata SMA/sederajat dan S1/sederajat. Gaya urban telah mempengaruhi pola pikir masyarakat mengenai pentingnya pendidikan. Namun, seperti kata pepatah "ada yang kaya, pasti ada yang miskin" begitu pula yang terjadi di desa ini. Hampir 700 keluarga masuk dalam kategori tidak mampu dan 300 orang tidak pernah merasakan bangku pendidikan maupun hanya merasakan bangku Sekolah Dasar. Lanjut Bagian 2

Dewi Purwati










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)