Cerita Dokumenter dari Timur

| Rabu, 08 Januari 2014 - 18:58:46 WIB | dibaca: 2725 pembaca

 

Dokumenter dapat menjadi counter terhadap tayangan-tayangan media arus utama yang mayoritas tidak mendidik. Televisi-televisi nasional yang lebih berpihak pada kepentingan pemodal, yakni akumulasi kapital hanya mempertimbangkan nilai-nilai komersialitas ketimbang edukasi. Hal ini tentu membawa bahaya laten bagi masyarakat. Sementara, dengan kemasan yang menyajikan fenomena sosial riil, dokumenter hadir sebagai salah satu media belajar masyarakat untuk peka dan kritis pada lingkungan.

Kegelisahan yang sama terhadap urgensi dokumenter ini mendorong tim media Kagem mengundang Komunitas Film Kupang untuk berbagi cerita. Diskusi ini digelar di markas Kagem pada ( / ). Obrolan santai ini lebih banyak ingin mendengarkan bagaimana suka duka cerita dokumenter dari daerah timur Indonesia.

Abe, anggota Komunitas Film Kupang mengaku telah belajar dokumenter bersama komunitasnya sejak 2012. Ketertarikan terhadap dokumenter diawali dari kisah menarik. “Awalnya komunitas Beta adalah komunitas bedah film. Namun karena kian hari dirasa kian melempem, kami mengubah diri menjadi komunitas bedah film,” terangnya. Berawal dari aktivitas membedah film, komunitas film ini lantas tertarik memproduksi film mereka sendiri. Melalui fasilitas yang disediakan oleh Indocs, mereka kini telah menghasilkan tiga karya dokumenter dan sebuah film fiksi.

Lantaran dokumenter belum membumi di Kupang, Komunitas Film Kupang mencoba memasyarakatkannya. “Kami melakukan pemutaran di beberapa sekolah dan universitas,” ujar Abe. Mereka pun mendapat sambutan positif.

Lebih lanjut Abe menuturkan bahwa nilai inspiratif adalah hal yang diyakininya penting dalam substansi dokumenter. Untuk itulah komunitasnya tidak ingin berkutat pada gagasan tentang masalah. “Kami lebih memilih mengangkat semangat orang-orang yang berjuang memperbaiki keadaan daripada mengeluhkan soal kemiskinan yang sudah menjadi masalah klasik di timur,” tegasnya.

Selain substansi, diskusi terus bergulir dan memaknai bahwa dokumenter sesungguhnya bertumpu pada riset. Dokumenter juga harus dibedakan dengan genre-genre yang lain. Dokumenter berbeda dengan dokumentasi karena di dalamnya terdapat drama yang disajikan. Ia berbeda pula dengan jurnalistik karena tidak cover both side melainkan punya keberpihakan. Secara teknis, dokumenter juga menuntut pendekatan yang lebih. Selain pendekatan kepada subjek dokumenter, pendekatan internal kru untuk menyamakan persepsi juga sangat dibutuhkan. Khalimatu Nisa – Tim Media Kagem Yogyakarta










Komentar Via Website :


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)